Oleh: dojosatria | Oktober 4, 2009

Kisah Nakayama & Ular Berbisa

Kisah ini diceritakan Oleh Teruyuki Okazaki, pendiri ISKF (International Shotokan Karate Federation). Cerita diambil dari sebagian wawancara antara Okazaki dengan Catherine Pinch yang dimuat dalam ISKF Alaska Newsletter September
2007

Sebelum JKA mempunyai dojo sendiri, sejak aku lulus dari universitas tidak ada tempat bagi kami untuk berlatih karate. Satu-satunya tempat hanyalah dojo-dojo di universitas. Disamping itu aku sibuk bekerja, tujuh hari seminggu di sebuah rumah makan yang ramai. Sebelumnya aku ingin membuka usaha sendiri sebab kupikir dengan itu akan cukup waktu untuk berlatih karate. Ternyata hal itu tidak mungkin karena aku harus bekerja sepanjang waktu hingga aku tidak punya waktu untuk orang lain. Untunglah tidak lama kemudian aku bekerja pada seorang teman yang sangat baik. Dia mengijinkanku beristirahat kapanpun saat aku ingin berlatih karate.

Suatu hari Sensei Nakayama mengajakku menemaninya berkunjung ke Thailand untuk memperkenalkan seni karate. Sebelumnya sebuah undangan untuk mengajar telah sampai, karena itu kami berencana pergi selama dua bulan untuk mengajar, bersantai sambil mempelajari tentang negara itu .

Di Thailand kami melihat banyak hal, dan kami sangat menikmatinya. Salah satu pertunjukan jalanan yang terkenal di Thailand adalah pertarungan antara ular kobra melawan musang. Tontonan itu tersedia setiap hari, dan bagi penduduk lokal sangatlah menarik. Tentu saja Sensei Nakayama takut dengan ular, awalnya dia tidak berani melihat tontonan itu dari dekat. Namun kukatakan padanya,”Sensei, kita disini hanya sebentar. Kita harus mengambil beberapa gambar dari tontonan ini karena kita tidak akan melihat Thailand lagi”.


Begitulah, akhirnya dia merogoh kameranya dan mendekati pertunjukan yang sedang berlangsung. Dia berdiri sejauh-jauhnya dari ular itu sambil sedikit membungkuk untuk mengambil gambar. Sementara itu, disisinya ada sebuah keranjang yang berisi ular. Tanpa diketahui oleh Sensei Nakayama seekor ular muncul dan merayap mendekatinya. Dirinya saat itu benar-benar fokus mengambil gambar hingga tidak menyadari ular lain tengah mendekatinya. Aku berkata,”Sensei, hati-hati dengan ular itu, dia sedang menuju kearahmu. Dengan terlihat sedikit kesal dia hanya melambaikan tangannya padaku agar sabar menunggu. Aku berkata lagi,”tidak Sensei, ada ular sedang mendekatimu”. Tiba-tiba dia melihat kebawah dan terlihat olehnya seekor ular kobra besar nyaris saja mematuknya. Sensei Nakayama langsung melompat ke belakang dengan ketakutan, dan kemudian melarikan diri. Selanjutnya seharian itu aku tidak melihatnya dimanapun.

Saat itu Thai boxing sangat populer di Thailand, dan surat kabar lokal telah mendengar kedatangan kami. Di pemberitaan dimuat bagaimana jadinya jika seorang juara Thai boxing akan melawan praktisi karate dalam sebuah pertandingan. Orang Thailand sangat bangga mempunyai olah raga ini. Beberapa surat kabar ada yang menceritakan tentang kami, bahkan membandingkan karate dengan Thai boxing. Sejak itu hampir setiap hari aku pergi menyaksikan beberapa pertandingan Thai boxing untuk melihat seperti apa bentuknya. Aku sangat percaya diri mampu mengalahkan mereka (saat itu aku juga masih muda). Aku berkata pada Sensei Nakayama,” Sensei aku bisa saja mengalahkan mereka, aku tahu aku mampu”. Saat itu tradisi di Thailand si penantang harus melawan asisten senior lebih dulu. Jika si penantang berhasil mengalahkan si asisten, maka dia baru berhak menantang seniornya. Karena itu aku ingin sekali menantang petarung Thai boxing.


Namun demikian si juara Thai boxing ternyata juga hadir menyaksikan demonstrasi karate kami. Sensei Nakayama kemudian menampilkan teknik dasar karate seperti pukulan, tendangan, tangkisan, pergerakan badan dan berbagai variasi teknik lainnya. Sang juara Thai Boxing akhirnya menyadari bahwa karate mempunyai lebih banyak teknik daripada Thai Boxing. Dia berpendapat pertandingan apapun antara kedua bela diri ini akan menjadi tidak adil. Keduanya terlalu berbeda. Karena itulah kami tidak pernah mengadakan sebuah pertandingan.

Masyarakat lokal tampaknya tidak begitu gembira dengan keputusan kami, dan kami mendapat pemberitaan buruk dari media karenanya. Suatu hari ketika kami sedang berjalan bersama, tiba-tiba seorang anak menghampiri kami. Selanjutnya dengan terang-terangan dia menantang kami untuk berkelahi dengannya. Sensei Nakayama hanya menjawab,”tidak”, dan kami mencoba meneruskan perjalanan. Saat mencoba menghindar, tiba-tiba anak itu melayangkan tendangan ke kepala Sensei Nakayama. Kemudian anak itu telah terbujur pingsan di tanah. Sensei Nakayama telah melakukan sesuatu yang sangat cepat, dan hingga kini aku masih belum tahu apa yang terjadi. Kemudian Sensei Nakayama mengatakan, “lari !”, dan kami segera menyingkir dari tempat itu.

Sensei Nakayama merasa sangat malu dengan perbuatannya telah menyerang anak yang menantangnya tempo hari, karena Master Funakoshi telah melarangnya terlibat dalam perkelahian. Tubuhnya hanya bereaksi ketika tendangan itu mengarah padanya. Dia berpesan padaku agar tidak mengatakan pada siapapun tentang kejadian hari itu, karena Master Funakoshi akan sangat marah padanya. Tentu saja sekarang beliau telah meninggal, sehingga tidak apa-apa jika aku menceritakan kisah ini pada kalian. Apalagi hal itu telah menunjukkan kebesaran dan kerendahan hatinya.

Kejadian lain adalah saat aku dan Sensei Yaguchi membantu Sensei Nakayama di akademi militer Jepang. Setiap tahun ada akademi militer dan Sensei Nakayama diminta mengajar bela diri sebagai bagian program pelatihan. Tentu saja di Jepang ada budaya memberi hadiah pada instruktur, karena itulah beberapa murid bertanya padaku dan Sensei Yaguchi hadiah apa yang disukai Sensei Nakayama. Sensei Yaguchi menjawab (bergurau),”Oh, dia suka dengan ular”. Murid-murid melihat padaku dan akupun mengangguk.,”Ya benar, dia sangat menyukai ular”. Kemudian aku dan Sensei Yaguchi tertawa dengan hal itu. Kami kira murid-murid juga menyadari bahwa kami hanya bercanda dan kamipun melupakannya.

Tidak lama sesudah itu beberapa murid membawa sebuah hadiah yang dibungkus dengan cantik kepada Sensei Nakayama. Saat itu aku dan Sensei Yaguchi juga sedang di kantor bersama Sensei Nakayama. Murid-murid meletakkan hadiah itu diatas meja sambil mengucapkan terima kasih pada Sensei Nakayama atas segala latihan yang telah diberikan. Sensei Yaguchi dan aku samar-samar mendengar suara berdesis berasal dari dalam kotak, dan dengan sangat terkejut kami saling melihat satu sama lain. Kami tidak dapat berkata apapun selain menyadari murid-murid telah menganggap serius perkataan kami tempo hari. Ternyata mereka telah mendaki ke gunung dan menghabiskan banyak waktu berburu sepasang ular yang bagus sebagai hadiah.

Tentu saja, setelah Sensei Nakayama membuka hadiah itu dia segera melemparkannya dan melarikan diri dari ruangan. Sepanjang hari itu kami tidak melihatnya. Karena bingung apa yang harus dilakukan, kami menuju ke rumahnya dan berbicara dengan istrinya. Kami menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, dan ketidaktahuan kami bahwa murid-murid ternyata percaya tentang ular itu. Dia hanya tertawa dan berkata tidak perlu khawatir, dia akan berusaha menjelaskan pada suaminya apa yang sebenarnya terjadi. Namun demikian, hal itu tampaknya tidak begitu berhasil. Dia terlanjur sangat marah dan enggan berbicara dengan kami dalam waktu yang lama.

 

diambil dari : http://indoshotokan.blogspot.com/2008/07/kisah-nakayama-ular-berbisa.html

Oleh: dojosatria | September 4, 2009

Shotokan atau Shotokai ? (2)

Dalam Shotokai berprinsip bahwa karate adalah seni dari sopan santun sebagaimana telah dikatakan sebelumnya bahwa karate dimulai dan diakhiri dengan memberi hormat. Dengan berlatih karate seorang praktisi Shotokai dapat membangkitkan keberanian, mencapai semangat Budo dan mencapai kedisplinan diri dan juga watak kebajikan.

Seperti halnya aliran karate lainnya, Shotokai juga melatih tiga materi utama dalam karate yaitu kihon, kumite dan kata. Kata dalam Shotokai dapat dilatih oleh praktisinya dari berbagai usia baik laki-laki atau perempuan, dan tentu saja anak-anak. Walaupun nama Shotokai hampir mirip dengan Shotokan, kata yang dilatih dalam Shotokai sedikit berbeda dengan milik Shotokan. Ada 19 kata yang dilatih dalam Shotokai, yaitu :

Taikyoku Shodan, Nidan, Sandan
Heian Shodan, Nidan, Sandan, Yondan, Godan
Bassai
Kanku
Enpi
Gankaku
Jutte
Hangetsu
Jion
Tekki Shodan, Nidan, Sandan
Ten-no-kata

Taikyoku adalah kata yang sangat mirip dengan Kata Heian. Menurut legenda kata ini Gichin Funakoshi yang mengajarkan pertama kali. Kata Taikyoku diajarkan untuk pengenalan pemula pada karate. Teknik – tekniknya juga lebih sederhana daripada kelima Kata Heian. Jika ingin melihat bagaimana bentuk kata Taikyoku ini – sejak Shotokai kurang begitu populer di tanah air – kurang lebihnya Anda dapat melihat di Kyokushinkai. Karena Masutatsu Oyama yang merupakan pendiri Kyokushinkai sebelum mendirikan alirannya sendiri juga pernah belajar pada Gichin Funakoshi.

Ten-no-kata menurut cerita – cerita sebelumnya adalah kata yang diajarkan oleh Yoshitaka Funakoshi (anak Funakoshi), namun ada juga yang menyatakan Gichin Funakoshi yang mengajarkan kata ini pertama kali. Ten-no-kata terdiri dari dua versi, Ten-no-kata Omote yang berupa metode latihan kumite tanpa pasangan. Ten-no-kata Omote terdiri dari gerakan tangkisan bawah ditambah serangan, tangkisan tengah ditambah serangan dan tangkisan atas ditambah serangan.

Versi kedua dari Ten-no-kata adalah Ten-no-kata Ura. Pada versi kedua Ten-no-kata ini adalah metode latihan yang dilakukan dengan berpasangan. Terdiri dari enam gerakan pada sasaran tengah dan atas, dimana satu orang menyerang dan lawannya akan menangkis dengan bergerak maju dan mundur secara bergantian. Baik Ten-no-kata Omote dan Ura adalah latihan awal untuk kumite.

Dalam Shotokai seorang praktisi kata belajar tiga elemen penting dalam karate ; aplikasi kuat dan lemah dalam kekuatan, cepat dan lambat gerakan, peregangan dan pengerutan otot-otot tubuh. Selain itu praktisi karate Shotokai juga belajar irama, ketepatan waktu, jarak, pernapasan dan aliran tenaga yang menjadi esensi dari karate. Memahami makna setiap teknik Dalam hal ini tujuan dan aplikasi kata Shotokai sama dengan aliran lain. Yang membedakan dalam Shotokai gerakan terlihat lebih natural mengalir alami. Cukup dimaklumi sejak hal ini dipengaruhi filosofi Shotokai yang melakukan gerakan harus rileks dan menjauhi gerakan yang cenderung kasar.

Bagaimana dengan kumitenya ? Sebelum masuk tahap kumite, praktisi Shotokai wajib belajar Ten no kata (Omote dan Ura) yang berisi rangkaian teknik-teknik kihon yang sudah ditentukan. Dalam Shotokai, seorang karateka tidak akan bisa masuk tahap Jiyu Kumite (kumite dengan teknik yang bebas / tidak ditentukan lagi) kecuali telah berlatih minimal setahun (intensif).
Alasan dibalik ini kumite sangat berbahaya jika dilancarkan oleh murid pemula atau tingkat lanjut yang belum bisa mengontrol tekniknya dengan baik, sehingga resiko cedera juga semakin meningkat. Bahkan Shigeru Egami melarang keras seorang praktisi Shotokai melakukan jiyu kumite kecuali sudah mencapai tingkatan minimal sabuk hitam sandan.

Sedangkan untuk peringkat sabuknya, saat ini Shotokai di Jepang membedakan untuk kelas anak-anak dan dewasa. Kelas anak-anak akan dimulai dari usia minimal sebelum masuk sekolah dasar sampai dengan sekolah mengah pertama. Peringkat sabuk untuk kelas anak-anak dimulai dari kyu 18 – 16 dengan sabuk berwarna putih sampai dengan tingkat shodan dengan sabuk hitam bergaris putih. Sedangkan untuk kelas dewasa dimulai dari usia minimal setingkat SMU sampai yang lebih tua. Peringkat sabuk untuk kelas dewasa dimulai dari kyu 8 – 7 dengan sabuk putih hingga maksimal tingkat yang dapat dicapai adalah godan (dan V sabuk hitam).

Saat ini Shotokai di Jepang mengadakan ujian kenaikan tingkat dua kali setahun, sekitar bulan Juni dan November. Tidak seperti aliran karate lain yang memungkinkan praktisinya mencapai tingkat judan (dan sepuluh sabuk hitam) sebagai peringkat yang paling tinggi, di Shotokai praktisinya akan mencapai tingkat maksimal hanya sampai godan. Praktisi Shotokai yang telah memegang sabuk hitam godan akan menyandang gelar Shihan sebagaimana Gichin Funakoshi telah menentukan.

Mengapa bisa berbeda ? hal ini karena pada awal Funakoshi datang ke Jepang sekitar tahun 1932 karate tidak mengenal sistem peringkat seperti yang terlihat saat ini. Funakoshi melakukan standarisasi peringkat sabuk (kyu & dan) diinspirasi oleh Judo dan juga sebagai bentuk modernisasi karate. Saat itu Funakoshi memberikan sabuk hitam pada murid-muridnya yang lebih senior. Dalam pandangan Shotokai sabuk hitam adalah awal yang sesungguhnya dari seorang praktisi karate dalam berlatih seni bela diri ini. (selesai)

Artikel dan foto dari website resmi Shotokai Jepang, dan lain-lain.

Oleh: dojosatria | Agustus 10, 2009

Amura Menjadi Juara Umum

Dengan Perkembangan Karate Di Banyuwangi yang begitu pesatnya, maka Dojo satria dapat mencetak para atlit tangguh.

Di Buktikan Dengan Menjadi Juara Di Pertandingan yang di Gelar tgl 10 Agustus 2009 .

 

amura2

amura3

Oleh: dojosatria | Juli 27, 2009

Raih Prestasi Setinggi Mungkin

jka6

jka5

Oleh: dojosatria | Juli 27, 2009

FORKI dan FKTI Berjalan Berdampingan

Berhubung admin tidak sempat mengetik ulang naskah asli, berikut langsung di tampilkan screen shoot, untuk memperbesar artikel silahkan di Klik

jka4

Oleh: dojosatria | Juli 27, 2009

Sukses Di Karate Dan Renang

jka1jka2

Silahkan Klik Untuk Membaca ^_^

Admin

Oleh: dojosatria | Juli 27, 2009

Kata Shotokan

funakoshi

Kata yang berarti bentuk resmi atau kembangan juga memiliki arti sebagai filsafat. Kata memainkan peranan yang penting dalam latihan karate. Setiap kata memiliki embusen (pola dan arah) dan bunkai (praktik) yang berbeda-beda tergantung dari kata yang sedang dikerjakan. Kata dalam karate memiliki makna dan arti yang berbeda. Bahkan kata juga menggambarkan sesuatu. Inilah kata sebagai filsafat.

Oleh sebab itulah kata memiliki peranan yang penting sejak jaman dulu dan menjadi latihan inti dalam karate. Gichin Funakoshi mengambil kata dari perguruan Shorei dan Shorin. Shotokan memiliki 26 kata yang terus dilatih hingga kini. Ada yang populer ada pula yang tidak. Masing-masing kata mempunyai tingkat kesulitan sendiri-sendiri. Karena itu wajib bagi tiap praktisi Shotokan untuk mengulang berkali-kali bahkan ratusan kali.

Kata Arti Nama Asli
Heian Shodan Pikiran yang damai (1) Pinan Nidan
Heian Nidan Pikiran yang damai (2) Pinan Shodan
Heian Sandan Pikiran yang damai (3) Pinan Sandan
Heian Yondan Pikiran yang damai (4) Pinan Yondan
Heian Godan Pikiran yang damai (5) Pinan Godan
Tekki Shodan Satria yang kuat, kuda-kuda yang kuat (1) Naihanchi
Tekki Nidan Satria yang kuat, kuda-kuda yang kuat (2)
Tekki Sandan Satria yang kuat, kuda-kuda yang kuat (3)
Bassai Dai Menembus benteng (besar) Passai
Kanku Dai Menatap langit (besar) Kushanku
Enpi Burung layang-layang terbang Wanshu
Hangetsu Bulan separuh Seishan
Jion Nama biksu Budha, pengampunan Jion
Nijushiho 24 langkah Niseishi
Sochin Memberi kedamaian bagi orang banyak Sochin
Bassai Sho Menembus benteng (kecil)
Kanku Sho Menatap langit (kecil)
Jitte Bertarung seolah-olah dengan kekuatan 10 orang Jitte
Chinte Tangan yang luar biasa Chinte
Meikyo Cermin jiwa Rohai
Jiin Gema Kuil, Dasar kuil
Gankaku Bangau diatas batu Chinto
Wankan Mahkota raja Wankan
Gojushiho Sho 54 langkah (kecil)
Gojushiho Dai 54 langkah (besar) Useishi
Unsu Tangan seperti (menyibak) awan di angkasa Hakko

Tulisan Sebelumnya »

Kategori